Senin, 09 Januari 2012


A. Pendahuluan
Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang befungsi sebagai pembentukan karakter bagi peserta didik, selayaknya pada lembaga pendidkan perlunya ditingkatkan mutu pendidikan, guna mencetak para siswa yang dapat menjawab tantangan zaman. 

Sebenarnya peningkatan mutu pada lembaga pendidikan terus dilakukan. Upaya peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas dengan cara: pengembangan dan perbaikan kurikulum, perbaikan sistem evaluasi, perbaikan sarana dan prasarana, pelatihan kepala sekolah, staf dan karyawan. Akan tetapi upaya-upaya tersebut tidak dapat mencapai tujuan yang dikehendaki. Sebagaimana yang di dikemukakan oleh ki Suprayoko, bahwa prestasi-prestasi indonesia menempati tiempat yang paling terendah di dunia.

Peningkatan mutu seharusnya  menempati posisi yang tertinggi, karena pendidikan sebagai wadah untuk menciptkan sumber daya manusia dalam pendidikan. Untuk itu mutu pendidikan harus dilakukan dengan cara perencanaan yang terarah.

Menurut perhatian Diknas, bahwa penyebab  rendahnya mutu pendidikan indonesia terdapat beberapa faktor. Pertama kebijakan pusat secara absolute, sehingga para pelaksana pendidikan kurang begitu bisa menyesesuaikan dengan lingkungan belajar. Kedua Input dan output dalam pendidikan tidak di analysis secara konsisten. Ketiga perhatian para peserta didik, orang tua, tenaga pendidik masih rendah.

Penyelesaian masalah pendidikan tidak bisa dipandang hanya pada sebelah pihak saja. Artinya jangan hanya memandang dari segi anggaran saja, sebab percuma anggran besar akan tetapi sumberdaya manusianya rendah. Pendidikan bermutu tidak harus ditempuh dengan anggaran yang besar, tapi mutu suatu pendidikan terletak kepada keseriusan untuk mengelola pendidkan dan adanya keantusiasan bersama.

Konsep yang menawarkan bekerja sama  antara pihak sekolah, masyarakat dan pemerintah, harapannya sekolah lebih dinamis, efektif dan kreatif untuk mengelola sumber daya sekolah yang ada. Untuk itu sekolah harus bisa menangkap esensi kebijakan makro pendidikan, untuk ditejemahkan dalam lingkungan sekolah, sehingga hasil dari pada pendidikan dapat dipergunakan pada lingkungan masyarakat.

B. Pengertian Kualitas Pendidik
Sebelum kita membahas kualitas pendidikan telebh dahulu , kita harus membahas pengertian mutu. Mutu dalam kamus besar bahasa indonesia berkaitan erat dengan baik, kadar, derajar, kepandaian dan lain- lain. Akan tetapi dalam pengertian secara menyeluruh adalah sebgai gambaran karakteristik atas kemamp[uan tenaga dan jasa-jasa untuk memuaskan para pelanggakan yang diharapkan.

Pengertian kualitas mutu Paling tidak mempunyai beberapa konsep, sebgai pendidkan untuk memahaminya,yaitu:

  1. Konsep Absolute
Jika diterapkan dalam dunia wirausaha dapat diartikan, bahwa perusahaan membuat produk dan barang yang mempunyai kualitas sangat bagus, tidak ada yang melebihinya. Akan tetapi bila diterjemahkan dalam dunia pendidikan, yaitu skolah memberikan pelayanan yang sangat bermutu dan berkualitas pada peserta didik. Absolute disini akan mengeluarkan anggaran yang sangat besar karena banyaknya tuntuatan yang bersifat material guna mencapai tujuan. Dan konsep ini akan diminati bagi kalangan elit saja, karena sangat jarang sekali kalanga masayarakat   pada umumnya untuk memenuhi tuntutan yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah. Meskipun mutu terjamin tapi `nggaran yang dibutuhkan sangat besar pula.

  1. Konsep Relatif
Kosnsep ini dalam memaknai sebuah mutu, tidak hanya berpacu kepada produk. Selain itu pelayanan menjadi perhatian juga, untuk mencapai kategori mutu. Dalam dunia pendidikan bila dikaitkan dengan konsep relatif, maka mutu pendidikan tidak hanya mengarah Kepada anggaran, tapi pendidikan dapat mencapai spefikasi tujuan.

  1. Konsep Pelanggan
Konsep ini akan memenuhi mutu, apabila barang atau produk yang dihasilkan dari sebuah perusahaan dapat memberikan kepuasa kepada para pelanggan. Dengan kata lain, perusahaan tidak perlu mengandalkan pemasaran produk secara absolute, akan tetapi cukup kepuasan palanggan dengan meningkatkan mutu yang serba idealis.

C. Manajemen Berbasis Sekolah Sebagai Alternatif Pengembangan Kurikulum
Kualitas pendidikan sangat menekankan kepada peranan kepala sekolah dan peranan masayrakat setempat untuk mengembangkan mutu pendidikan. Sekolah selaku pendidikan otonomi perlu diberikan kepercayaan untuk mengelola pendidikannya secara mandiri, menurut kebutuhan dan peminat pelanggan dilingkungannya. Karena tujuan pendidikan akan lebih terarah bila sebauh mekanisme pendidikan diserahkan kepada pihak pengelola pendidikan yang berwenang. Dalam konsep itu mencullah istilah baru yaitu Manajemen Mutu Berbasis Sekolah

Konsep peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah muncul dalam kerangka pendekatan manajemen berbasis sekolah. Pada hakekatnya MBS akan membawa kemajuan dalam dua area yang saling tergantung, yaitu, pertama, kemajuan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa-orang tua, siswa dan masyarakat. Kedua, kualitas lingkungan kerja untuk semua anggota organisasi.

Wohlstetter dalam Watson (1999) memberikan panduan yang komprehensif sebagai elemen kunci reformasi MBS yang terdiri dari atas: 1) menetapkan secara jelas visi dan hasil yang diharapkan, 2) menciptakan fokus tujuan nasional yang memerlukan perbaikan, 3) adanya panduan kebijakan dari pusat yang berisi standar-standar kepada sekolah, 4) tingkat kepemimpinan yang kuat dan dukungan politik serta dukungan kepemimpinan dari atas, 5) pembagunan kelembagaan (capacity building) melalui pelatihan dan dukungan kepada kepala sekolah, para guru, dan anggota dewan sekolah, 6) adanya keadilan dalam pendanaan atau pembiayaan pendidikan.

D. Peran Masing-Masing Pihak dalam MBS
untuk melaksanakan program MBS ini, tentunya antara satu dengan yang lain harus saling terkait, karena inti dari pada MBS ini adanya kerjasama dari semua pihak, baik pendidikan daerah, guru, dewan sekolah, kepala sekolah, orang tua dan masyarakat sekolah. 

       1.Peran Kantor Pendidikan Pusat dan Daerah
Peran pemerintah daerah adalah memfasilitasi dan membantu staf sekolah atas tindakannya yang akan dilakukan sekolah, mengembangkan kinerja staf sekolah dan kinerja siswa dan seleksi karyawan. Dalam kaitannya dengan kurikulum, menspesifikasi-kan tujuan, sasaran, dan hasil yang diharapkan dan kemudian memberikan kesempatan kepada sekolah menentukan metode untuk menghasilkan mutu pembelajaran. Pemerintah kabupaten/kota menjalankan tugas dan fungsi : 1) Memberikan pelayanan pengelolaan atas seluruh satuan pendidikan negeri atau swasta; 2) memberikan pelayanan terhadap sekolah dalam mengelola seluruh asset atau sumber daya pendidikan yang meliputi tenaga guru, prasarana dan sarana pendidikan, buku pelajaran, dana pendidikan dan sebagainya; 3) melaksanakan tugas pembinaan dan pengurusan atas tenaga pendidik yang bertugas pada satuan pendidikan. Selain itu dinas kab/kota bertugas sebagai evaluator dan innovator, motivator, standarisator, dan informan, delegator dan koordinator

2.  Peran Dewan Sekolah dan Pengawas Sekolah
Dewan sekolah (komite sekolah) memiliki peran: menetapkan kebijakan-kebijakan yang lebih luas, menyatukan dan memperjelas visi baik untuk pemerintah daerah dan sekolah itu sendiri, menentukan kebijakan sekolah, visi dan misi sekolah dengan mengacu kepada ketentuan nasional dan daerah, menganalisis kebijakan pendidikan, melakukan komunikasi dengan pemerintah pusat, menyatukan seluruh komponen sekolah. Pengawas sekolah berperan sebagai fasilitator antara kebijakan pemda kepada masing-masing sekolah antara lain menjelaskan tujuan akademik dan anggarannya serta memberikan bantuan teknis ketika sekolah menghadapi masalah dalam menerjemahkan visi pemda. Mereka memberikan kesempatan untuk mengembangkan profesionalisme staf sekolah, melakukan eksperimen metode pengajaran, dan menciptakan jalur komunikasi antara sekolah dan staf pemda.

3. Peran Kepala Sekolah
Pada tingkat sekolah, peran kepala sekolah sangat sentral. Untu itu peran kepala sekolah adalah : sebagai evaluator, manajer, administrator, supervisor, leader, inovator dan motivator. Disamping enam fungsi diatas Wohlstetter dan Mohrman menyatakan bahwa kepala sekolah berperan sebagai designer, motivator, fasilitator dan liasion

4. Peran Orang Tua dan Masyarakat
Karakteristik yang paling menonjol dalam konsep MBS adalah pemberdayaan partisipasi para orangtua dan masyarakat. Sekolah memiliki fungsi subsider, fungsi primer pendidikan ada pada orangtua.

  1. Peran Para Guru
Pedagogi reflektif menunjuk tanggungjawab pokok pembentukan moral maupun intelektual dalam sekolah terletak pada para guru. Karena melalui peran para guru hubungan personal autentik untuk penanaman nilai-nilai bagi para siswa berlangsung





Posted by Rokhimnet fuul On 13.43 No comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Lampirkan Komentar anda pakai Anonymous, supaya lebih mudah

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube