Jumat, 24 Februari 2012

Menjadi seorang pemimpin, bukanlah hal yang mudah. Karena di dalam kepemimpinan ada tujuan yang harus dicapai. Untuk mengarah kepada ketercapaian tujuan tersebut, membutuhkan pengikut. Syarat didalam kepemimpinan merupakan perihal yang mutlak dibutuhkan. Bila syarat-syarat dalam kepemimpinan tidak dipenuhi, proses kepemimpinan tidak akan berjalan dengan efektif.

Adapun syarat-syarat kepemimpinan menurut kartini kartono sebagaimana yang dikutip oleh Permadi, bahwa syarat-syarat kepemimpinan ada 3, yaitu:

a. Kekuasaan
Ialah kekuasaan, oboritas dan legalitas yang memberi wewenang kepada pemimpin untuk mempengaruhi dan menggerakkan bawahan supaya berbuat sesuatu. Untuk memiliki kekuasaan tersebut harus melakukan hal-hal tertentu yang harus dilakukan. Karena seseorang akan menadaptkankan gelar kepemimpian manakala ia mendapatkan pengakuan dan pengangkatan[1]

Pemimpin yang berdasarkan pengakuan, biasanya berjalan di lingkungan mayarakat secara umum dan organisasi non formal. Pemimpin yang seperti ini akan diakui ekstensinya bila mana pemimpin dapat memecahkan berbagai macam-macam permasalahan, mengayomi yang dibutuhkan para bawahan, sehingga apa yang lakukan akan mendapat penghargaan  dari kalangan setempat.  Satu hal yang mejadi karaktristik dari hal ini ialah kepedulian untuk memimpin dan mengerakkan.[2]

Kekuasaan pemimpin yang didapatkan dengan cara pengangkatan oleh pihak yang berwenang. Biasanya sering terjadi dilembaga-lembaga formal seperti sekolah dan  madrasah.pemimpin yng mendapat kekuasaan dena cara pengangkatan, ia akan daianjurkan untuk melaksanakan tanggung jawabny, untuk mengembangkan organisasi yang ia pimpin.[3]

Jadi kekuasaan dapat dicapai dengan dua point. Pertama dengan kepedulian untuk memimpin dengan cara memecahkan berbagai masalah.  Ke dua   mampu bertahankan tanggung jawabnya untuk mengembangkan organisasainya. Hendaklah dua point ini dapat dimiliki oleh kepala madrasah, untuk mencapai kesuksesan sebagai seorang pemimpin.

b. Kewibawaan
Ialah kelebihan, keutamaan dan keunggulan, sehingga orang lain dapat patuh terhadap perintahnya. Tidak semua pemimpim mempunyai kewibawaan, pemimpin yang tidak mempunyai kewibawaan semua ucapan dan perintahnya akan sering diabaikan oleh bawahan.  Proses untuk menjadi pemimpin yang ebrwibawa ada beberapa faktor,  seperti faktor hereditas, kecakapan, tauladan, status sosial, kedisiplinan dan lain [4]
Ada beberapa metode untuk menumbuhkan kewibawaan dan karisma pada seorang pemimpin, yaitu;

1. Metode Ilahiah
Metode ini akan menumbuhkan karisma pada diri seorang pemimpin, dengan melakuka proseevolusi dan transformasi spiritual merupakan pendidikan dan pelatihan dalam mengembangkan kesehatan ruhani  baik secara praktis, teoritis dan empiris. Pendidikan dan pelatihan itu dimaksudkan agar dapat memberikan perubahan-perubahan positi dalam diri yang terimplementasikan pada aktivitas sisik, jiwa dan ruhani. Sehingga, pendidikan dan pelatihan itu akan senantiasa dapat memberikan manfaat bagi dirinya sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan kerja, lingkungan sosial, lingkungan berbangsa dan bernegara, serta lingkungan alam semesta.[5]

                        Poses pendidikan dan pelatihan ini ditujukan kepada mereka yang mempunyai keinginan kuat untuk mengembangkan eksistensi diri melalui*pendidikan dan pelatihan pengembangan Prophetic Leadership. Termasuk hal yang harus dijalani dalam pendidikan dan pelatihan ini adalah proses penyucian jiwa. Indikasi-indikasi keberhasilan seseorang menyucikan jiwa adalah munculnya potensi jiwa robbani yang utama dalam diri seseorang unutk mencapai karisma dan kewibawaan.[6]

2.  Metode Ilmiah
Metode ilmiah adalah suatu metode yang biasa dilakukan di dalam penelitian, pendidikan, dan pelatihan ilmiah pada umumnya. Metode ini diterapkan dalam rangka mengenali dan memahami eksistensi diri seseorang secara objektif dan sistematis melalui proses pengematan, belajar dan berlatih dengan kedesiplinan yang tinggi.[7]

c.   Kemampuan
Ialah sebuah potensi yang terdapat dalam diri pemimpin, dan kecakapan dalam menggerakkan bawahan untuk mencapai tujuan yang dikehendakinya, dalam arti ia mempunnyai pengetahuan yang sangat luas dalam kepemimpinan dari pada para bawahannya.[8]



[1] Permadi, Pemimpin dan kepemimpinan dalam manajemen ( Jakarta: Rineka Cipta, 1996), h. 16
[2] Nanang Fattah. Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung, Remajarosda, 2004) h. 88
[3] Ibid,. h. 88
[4] Permadi, Manajemen…h. 16
[5] Rach.mat Ramadh.ana al-Banjari, Peoph.etic Leadersh.ip, (Jogjakarta, Divapress, 2008), h. 324
[6] Ibid,. h. 324
[7]  Ibid,. h. 326
[8] Permadi, Manajemen…h. 16
Posted by Rokhimnet fuul On 02.21 No comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Lampirkan Komentar anda pakai Anonymous, supaya lebih mudah

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube