Sabtu, 05 Mei 2012


1.      Pengertian Persepsi
Manusia sejak diciptakan dan dilahirkan lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk ciptaan lainnya perbedaan itu tidak hanya dari penampilan fisiknya saja (jasmani) tetapi manusia dibekali dengan akal perasaan dan panca indra. Dengan potensi itulah manusia dapat menangkap rangsangan dan mengenal dunia luar sehingga mampu mengenali dirinya sendiri dan menilai stimulus yang ditangkapnya dan melakukan penyesuaian terhadap keadaan sekitarnya yang mana hal ini berkaitan dengan persepsi (perception).

Sedangkan kemampuan manusia untuk membedakan, mengelompokkan, memfokuskan yang ada dilingkungan sekitar mereka disebut sebagai kemampuan untuk mengorganisasikan pengamatan atau persepsi.[1] Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan yaitu merupakan proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh individu melalui alat reseptornya. Untuk lebih memahami persepsi berikut adalah beberapa definisi peresepsi menurut pakar psikologi antara lain sebagai berikut:


Persepsi merupakan penafsiran yang terorganisisr terhadap suatu stimulus serta mampu mempengaruhi sikap dan perilaku. Persepsi adalah proses penginterpretasian seseorang terhadap stimulus sensori. Proses sensori tersebut hanya melaporkan lingkungan stimulus. Persepsi menerjemahkan pesan sensori dalam bentuk yang dapat dipahami dan dirasakan.

Persepsi adalah penelitian bagaimana kita mengintegrasikan sensori ke dalan perspect obyek dan bagaimana kita selanjutnya menggunakan perspect itu untuk mengenali dunia (Perspect adalah hasil dari perspectual).[2]
Persepsi adalah proses individu dalam mengorganisasikan dan menginterpretasikan kesan yang diterima oleh panca indera (melihat, mendengar, membahu, merasa dan meraba) untuk memberi arti pada lingkungan.

Menurut pendapat Kartini Kartono persepsi adalah pengamatan secara global, belum disertai kesadaran, sedang subyek dan obyeknya belum terbedakan satu dari yang lainnya (baru ada proses memiliki tanggapan).[3]

Sedangkan menurut Bimo Walgito persepsi adalah pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan aktivitas yang integrated dalam diri.[4]

Dan menurut pendapat Jalaluddin Rakhmat persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.[5]

Dengan demikian dari pengertian-pengertian persepsi di satas dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah proses pengorganisasian dan proses penafsiran/penginterpretasian seseorang terhadap stimulasi yang dipengaruhi oleh berbagai pengetahuan, keinginan dan pengalaman yang relevan terhadap stimulasi yang dipengaruhi perilaku manusia dalam menentukan tujuan hidupnya.

Diantara komponen terpenting dalam pendidikan adalah peserta didik (siswa) dalam perspektif pendidikan Islam peserta didik merupakan subyek dan obyek pendidikan. Dalam banyak pustaka subjek didik disebut nak didik_ (siswa) karena program pendidikan tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak saja, melainkan juga orang dewasa. UU-SPN tahun 1989 disebut eserta didik_. Dengan pertimbangan lebih mendasar. Dalam kajian ini menggunakan istilah siswa yaitu siapa saja yang menjadi sasaran dalam proses pendidikan.

Dalam pandangan yang lebih modern anak didik tidak hanya dianggap sebagaimana disebutkan di atas, melainkan juga diperlakukan sebagai subyek pendidikan. Hal ini dilakukan dengan cara melibatkan mereka dalam memecahkan masalah dalam proses belajar mengajar.

Oleh karenanya tanpa peserta didik (siswa), maka pendidikan tidak akan terlaksana. Untuk itulah memerlukan pemahaman yang komprehensif kepada peserta didik dengan pemahaman tersebut akan membantu pendidik dalam melaksanakan tugas dan fungsinya melalui berbagai aktifitas pendidikan. Di bawah ini merupakan deskripsi tentang peserta didik (siswa), yaitu :
1.      Siswa adalah orang yang belum dewasa yang mempunyai sejumlah potensi dasar yang masih bisa berkembang
2.      Siswa adalah manusia yang memiliki diferensiasi periodesasi perkembangan dan pertumbuhan
3.      Siswa adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individual, baik yang disebabkan oleh faktor pembawaan maupun lingkungan dimana ia berada.[6]
Dalam Bahasa Arab sendiri di kenal tiga istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan pada anak didik kita. Tiga istilah tersebut adalah murid yang secara harfiah berarti orang yang menginginkan atau membutuhkan sesuatu. Tilmidz (jamaknya) talamidz yang berarti murid, dan thalib al-ilm yang menuntut ilmu, pelajar atau mahasiswa. Ketiga istilah tersebut seluruhnya mengacu kepada seseorang yang telah menempuh pendidikan.

Perbedaannya hanya terletak pada sekolah yang tingkatannya lebih rendah seperti sekolah dasar (SD) digunakan istilah murid dan tilmidz, sedangkan pada sekolah yang tingkatannya lebih tinggi seperti SLTP, SLTA dan perguruan tinggi digunakan istilah thalib al-ilm. Berdasarkan pengertian di atas, maka anak didik (siswa) dapat dicirikan sebagai orang tenfah yang memerlukan pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan pengarahan.[7]



[1] Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Psikologi, Bulan Bintang, Jakarta, 1976, Hal. 39
[2] Atkinson dkk, Pengantar Psikologi Jilid II, Intereksa Batam, 1987, Hal. 277
[3] Kartini Kartono, Psikologi Umum, Alumni Bandung, 1984, Hal. 77
[4] Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, Andi Offsed, Yogyagkarta, 1994, Hal. 53
[5] Jalaluddin Rahmat, Psikologi Umum, Alumni Bandung, 1984, Hal 51
[6] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Ciputat Pers, Jakarta, 2002, Hal 48-49
[7] Abudin Nata, Persepktif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid, Raja Grafindo, Jakarta, 2001, Hal. 79

Posted by Rokhimnet fuul On 02.01 No comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Lampirkan Komentar anda pakai Anonymous, supaya lebih mudah

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Tips Seksual

Kesehatan Anak

Manfaat Tumbuhan Dan Buah Alami